GAJAH MADA (1)

TIGA SERANGKAI

SOLO

iii

iv

Gajahmada

Gajahmada
Langit Kresna Hariadi
Editor: Sukini
Desain sampul: Hapsoro Ardianto
Penata letak isi: Nugroho Dwisantoso
Cetakan pertama: 2004
Cetakan kedua: 2005
Cetakan ketiga: 2006
Cetakan keempat: 2006
Penerbit Tiga Serangkai
Jln. Dr. Supomo 23 Solo
Anggota IKAPI
Tel. 62-271-714344, Fax. 62-271-713607
http://www.tigaserangkai.co.id
e-mail: tspm@tigaserangkai.co.id
Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)
Hariadi, Langit Kresna
Gajahmada/Langit Kresna Hariadi— Cet. IV — Solo
Tiga Serangkai, 2006
x, 582 hlm. ; 21 cm
ISBN 979–668–558–2
1. Fiksi I. Judul
©Hak cipta dilindungi oleh undang-undang
All Rights Reserved
Dicetak oleh PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri

Gajahmada
1

Perjalanan sejarah berlangsung sangat panjang dan tak diketahui

di mana ujungnya. Ada dua wangsa yang tercatat dan keberadaan mereka
ditandai dengan megah dalam wujud candi Borobudur di arah barat
Gunung Merapi dan candi Jonggrang di Prambanan di arah selatan
gunung itu pula. Garis keturunan Syailendra dan garis keturunan Sanjaya
silih berganti menyelenggarakan pemerintahan. Agama Hindu dan Buddha marak mewarnai kehidupan segenap rakyatnya. Hukum ditegakkan,
negara dalam keadaan gemah ripah loh jinawi.
Dari prasasti Balitung ditulis bahwa Medang Ri Pohpitu atau Medang
di Pohpitu, Raja Mataram yang pertama adalah Sanjaya, disusul oleh
Panangkaran, Panunggalan, Warak, Garung, Pikatan, Kayuwangi, Watu
Humalang, dan Balitung. Pada prasasti Canggal tertulis bahwa pada
tahun Saka yang telah lalu dengan ditandai angka Caka Cruti Indria
Rasa, pada hari Senin, hari baik, tanggal tiga belas bagian terang bulan
Kartika, sang Raja Sanjaya mendirikan lingga yang ditandai dengan tandatanda di bukit yang bernama Stirangga untuk keselamatan rakyat.
Perjalanan waktu mengubah segalanya. Pemerintahan di tanah Jawa
Dwipa bergeser ke arah timur, ada Isyana yang meninggalkan jejak
amat jelas bersamaan dengan Warmadewa di Bali dan Sriwijaya di
Sumatra. Sejak berkuasanya Sindok, Jawa bagian timur menggantikan
Jawa wilayah tengah di atas panggung sejarah. Empu Sindok dan
keturunannya banyak meninggalkan prasasti, berturut-turut sampai pada
2

Gajahmada

garisketurunanberikutnya,SriDharmawangsaTeguh Anantawikramatunggadewa, yang memerintah dengan aman dan damai negara Medang
Kamulan.
Manakala Sri Dharmawangsa pralaya, Airlangga berhasil meloloskan
diri serta membangun kembali reruntuhan pemerintahan. Tahun 1019,
atau dalam sengkalan Gatra Candra Maletik Ing Sasadara, oleh para
pendeta Buddha, Siwa, dan Hindu, Airlangga dinobatkan menjadi raja
menggantikan Dharmawangsa. Pemerintahan Airlangga benar-benar
memberikan air kehidupan bagi segenap rakyatnya. Namun, sebuah
kekeliruan telah dilakukan oleh Airlangga yang mengesampingkan
persatuan dan kesatuan dengan membelah kerajaan menjadi dua. Sri
Sanggramawijaya, sang pewaris takhta yang ternyata tidak bersedia
dinobatkan menjadi raja, mendorong Airlangga untuk bertindak adil
atas dua anaknya yang lain. Kahuripan dibelah menjadi Jenggala yang
beribu kota di Kahuripan dan Panjalu yang beribu kota di Daha.
Sebagaimana terlihat dari jejak-jejaknya, Jenggala tidak mampu
berkembang menjadi negara yang besar. Jenggala lenyap dari percaturan
sejarah, sebaliknya Panjalu atau Kediri masih meninggalkan jejak
kemegahannya.
Berturut-turut Sri Jayawarsa Digdaya Castraprabu, dilanjutkan oleh Sri
Kameswara yang bergelar Sri Maharaja Rake Sirikan Sri Kameswara
Sakalabhuawanatustikirana Sarwaniwaryawirya Parakramadigdayotunggadewa,
menggunakan lencana kerajaan berupa Candrakapala berwujud tengkorak
dengan taring.
Selanjutnya, pemerintahan Prabu Jayabhaya yang bergelar Sri Maharaja Sri Dharmmecwara Madhusudanawataranindhita Suhrtsingha
Parakramma Digjayotunggadewa, menggunakan lencana kerajaan
berupa Narasingha. Jayabhaya digantikan Sarwecwara, selanjutnya
digantikan Sri Aryyeccwara yang menggunakan Ganeca sebagai lambang kekuasaan. Ketika Aryyeccwara surut digantikan Sri Gandra yang bergelar Sri Maharaja Sri Kroncarryadipa Handhabuwanapalaka
Parakramanindita Digjayotunggadewanama Sri Gandra.
Pemerintahan Sri Gandra berakhir, dilanjutkan oleh Raja Crngga
yang bergelar Sri Maharaja Sri Sarwwecwara Triwikramawataranindita
Gajahmada

3

Crnggalancana Digwijayotunggadewa, yang menggunakan Changka
atau kerang bersayap sebagai lambang kerajaan.Raja Kediri terakhir, Sri Kertajaya, menggunakan lambangGarudhamuka sebagaimana Airlangga, leluhurnya. Akan tetapi, Sri Kertajaya menganggap dirinya sebagai penjelmaan dewa dan meminta kepada para Brahmana, pendeta Siwa dan Buddha untuk menyembahnya.Para pemuka agama tak bisa menerima perlakuan itu dan merestui Ken Arok, maling kecil dari Karautan untuk melakukan makar setelah dengan gemilang berandalan ini merampok kekuasaan Tumapel melalui kelicikan otaknya.Nasib Kertajaya berakhir ketika Ken Arok mengalahkannya dalam pertempuran yang amat berdarah di Ganter. Sejak itu garis keturunan
Ken Arok mulai berkibar sekaligus banyak diwarnai peristiwa berdarah.
Keris Empu Gandring berbicara atas nama dendam. Berturut-turut
mati tertikam oleh keris dengan pamor berbau amarah itu: Empu
Gandring sang pencipta keris itu sendiri, disusul Tunggul Ametung,
Akuwu Tumapel yang beristrikan Sang Ardhanareswari yang cantik
jelita, Ken Dedes. Selanjutnya, mati menyedihkan Kebo Ijo yang menjadi
korban fitnah dan kelicikan Ken Arok ketika mengangkat diri sendiri
menjadi Akuwu di Tumapel dan nantinya menjadi raja pertama di
Singasari bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabhumi. Ken Arok
menjadi korban keganasan keris yang sama, ia harus menggeliat sekarat
dibunuh Batil Pengalasan utusan Anusapati. Batil Pengalasan membayar
dengan nyawanya karena Anusapati tidak ingin rahasianya terbongkar,
disusul kemudian oleh kematian Anusapati dalam permainan adu jago
melalui tikaman yang tidak terduga yang dilakukan oleh Tohjaya, anak
Umang. Terakhir, Tohjaya harus membayarnya melalui kematian yang
hina, Raja Singasari ini dibunuh oleh pengangkat tandunya sendiri setelah
Singasari diterjang banjir bandang akibat gempuran gabungan kekuatan
Ranggawuni, anak Anusapati dan Mahisa Cempaka, anak Mahisa Wong
A Teleng.
Pemerintahan yang terjadi banyak diwarnai dengan perebutan
kekuasaan dan persaingan. Antara garis keturunan Ken Dedes dan Ken
Umang saling mengintip celah untuk saling menjatuhkan, serta

4

Gajahmada

kemungkinan Kediri bakal bangkit kembali dan menusuk dari arah
belakang.Kertanegara lengah. Ketika segenap prajurit dia kirim ke Pamalayu, bagaikan banjir bandang prajurit Kediri menyerang Singasari. Pasukan yang ada tak sanggup membendung serbuan pasukan Jayakatwang.Raden Wijaya, anak Lembu Tal, cucu Mahisa Cempaka yang menjadi menantu Kertanegara mencoba menyusun kembali puing-puing pilar pemerintahan yang runtuh. Di bumi Tarik, Raden Wijaya memulai babat hutan, dan dinamailah tempat itu Majapahit hanya oleh sebuah alasan didapat buah maja yang terasa pahit.Majapahit juga berarti Wilwatikta.Atas dukungan para pendeta, Brahmana Buddha dan Syiwa, Raden Wijaya naik takhta bergelar Kertarajasa Jayawardhana.
Majapahit tumbuh dan berkembang, tetapi tetap saja diwarnai dengan banyak makar yang berawal dari ketidakpuasan. Ranggalawe yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa bukan ia yang diangkat menjadi Mahapatih memilih mengangkat senjata. Kidung Ranggalawe bertutur bagaimana Kebo Anabrang berhasil membunuh Ranggalawe.Dalam kidung Sorandaka diceritakan pula bagaimana Kebo Anabrang mampu meredam pemberontakan Sora. Nambi dan ayahnya mengangkat senjata dengan membuat beteng di Pajarakan, tetapi Pajarakan dan Lumajang dapat digilas. Nambi dan segenap keluarganya ditumpas.Di Lasem, Ra Semi juga mengangkat senjata memerdekakan diri, mencoba meniru yang dilakukan Ken Arok terhadap Kertajaya di Kediri.Hingga akhirnya tibalah kini, para Rakrian Dharma Putra Winehsuka melakukan makar.

BACA FULL SELENGKAPNYA…===>>